Di bawah kepemimpinan Agung Gempa, GCI memperkuat pengembangan SDM melalui pelatihan vokasi, kompetensi digital dan kolaborasi bersama pemerintah pusat, daerah, dunia usaha dan industri
BALI – Perubahan teknologi, perkembangan Artificial Intelligence (AI), digitalisasi dan dinamika dunia kerja menuntut sumber daya manusia yang semakin adaptif, terampil dan mampu terus belajar. Tantangan tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan LPK Garuda College Indonesia (GCI) di bawah kepemimpinan I Gusti Agung Putu Gempa Yuliana atau Agung Gempa, praktisi teknologi informasi dan transformasi digital yang telah menekuni bidang tersebut sejak 1994.
Selama lebih dari tiga dekade, Agung Gempa mengikuti berbagai fase perkembangan teknologi, mulai dari komputerisasi, internet generasi awal, sistem informasi, website, media digital, digital marketing hingga perkembangan Artificial Intelligence saat ini. Pengalaman tersebut tidak hanya membentuk pemahaman teknis, tetapi juga cara pandang bahwa teknologi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, dunia kerja, dunia usaha dan pembangunan sumber daya manusia.
Dalam perjalanan profesionalnya, Agung Gempa terlibat dalam pengembangan berbagai sistem informasi, website dan media digital bagi instansi pemerintah, perusahaan, koperasi, sekolah, yayasan, UMKM, sektor pariwisata serta berbagai organisasi. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan pelatihan, seminar dan pendampingan peningkatan kapasitas aparatur pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan, pelaku usaha dan komunitas.
Pengalaman panjang tersebut kini dibawa menjadi fondasi pengembangan LPK Garuda College Indonesia. GCI tidak diarahkan sekadar menjadi tempat penyelenggaraan kelas, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pengembangan SDM yang menghubungkan pendidikan, keterampilan, teknologi, dunia kerja dan kewirausahaan.
Menurut Agung Gempa, pelatihan yang baik harus mampu menjawab kebutuhan nyata peserta dan perubahan kebutuhan dunia kerja.
“Pelatihan harus menghasilkan perubahan kemampuan. Peserta harus mendapatkan keterampilan yang benar-benar dapat digunakan untuk bekerja, meningkatkan produktivitas atau mengembangkan usaha,” ujarnya.
Atas dasar itu, GCI terus mengembangkan program di bidang teknologi informasi, administrasi digital, Artificial Intelligence, digital marketing, komputer dunia kerja, desain dan konten digital, kewirausahaan, UMKM, bahasa, pelayanan pelanggan serta persiapan kerja. Program-program tersebut diarahkan agar dapat disesuaikan dengan profil peserta, kebutuhan pekerjaan, karakter industri dan tujuan yang ingin dicapai bersama mitra.
Dalam pengembangannya, GCI juga menempatkan kolaborasi sebagai bagian penting dari strategi kelembagaan. GCI membuka ruang sinergi dengan Kementerian/Lembaga, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, Dinas Tenaga Kerja, BPVP/BBPVP, BLK/UPTD, lembaga pendidikan, dunia usaha dan industri, koperasi, UMKM serta berbagai organisasi dan komunitas.
Kolaborasi tersebut tidak hanya dimaknai sebagai pelaksanaan sebuah kegiatan pelatihan, tetapi juga dapat dimulai sejak proses identifikasi kebutuhan kompetensi, penyusunan kurikulum dan materi, penentuan metode, penyiapan instruktur, pelaksanaan praktik dan proyek, evaluasi hingga pendampingan peserta setelah pelatihan.
Pendekatan ini membuat GCI lebih fleksibel dalam mengembangkan program sesuai kebutuhan mitra. Untuk perusahaan, instansi atau kelompok sasaran tertentu, pelatihan dapat dirancang dalam bentuk Tailor Made Training, dengan materi, durasi dan metode yang disesuaikan dengan kebutuhan nyata di lapangan. Sementara untuk pembelajaran yang menuntut hasil lebih aplikatif, GCI juga mengembangkan pendekatan Project Based Learning, sehingga peserta tidak hanya menerima teori, tetapi menghasilkan karya, solusi, dokumen atau produk yang dapat dievaluasi.
GCI juga memberi perhatian pada kebutuhan reskilling dan upskilling, terutama bagi pekerja yang perlu meningkatkan kemampuan atau mempelajari keterampilan baru akibat perubahan teknologi dan dinamika dunia kerja. Di sisi lain, pelaku UMKM dan wirausaha juga menjadi bagian penting dari pengembangan program GCI, melalui penguatan keterampilan digital, pemasaran, komunikasi, pengelolaan usaha, produktivitas AI dan pemanfaatan teknologi untuk memperluas pasar.
Kesiapan tersebut juga diarahkan untuk mendukung berbagai pendekatan dalam pelatihan vokasi pemerintah. GCI siap mengembangkan layanan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan program pemerintah, termasuk kebutuhan yang memiliki karakteristik serupa dengan Program ABT, dengan pelaksanaan melalui kemitraan, kesepakatan, penugasan, persetujuan dan sesuai ketentuan instansi yang berwenang.
Bagi GCI, posisi lembaga pelatihan ke depan bukan hanya sebagai penerima atau pelaksana program, tetapi sebagai mitra pengembangan SDM yang mampu memahami kebutuhan, menyiapkan program dan ikut memastikan hasil pelatihan memberikan dampak nyata.
Arah tersebut sejalan dengan semangat pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045, yang menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu fondasi utama kemajuan bangsa. Bagi GCI, visi besar tersebut harus diterjemahkan melalui program konkret yang mampu meningkatkan kompetensi, produktivitas, kesiapan kerja, kewirausahaan dan kemampuan masyarakat beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Sebagai lembaga yang tumbuh di Bali, pengembangan GCI juga diarahkan agar tetap memiliki keterkaitan kuat dengan kebutuhan pembangunan daerah. Bali membutuhkan SDM yang mampu menguasai teknologi, memiliki kreativitas, kemampuan komunikasi, keterampilan kerja dan jiwa kewirausahaan, namun tetap memiliki karakter dan akar budaya.
Filosofi tersebut dirangkum Agung Gempa dalam prinsip:
“Berkarya di Digital, Berakar pada Budaya Bali.”
Menurutnya, kemajuan teknologi tidak harus membuat masyarakat kehilangan identitas. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas hidup, memperkuat ekonomi masyarakat, memperluas peluang kerja dan usaha, serta membawa potensi lokal agar semakin kompetitif.
Agung Gempa juga menekankan pentingnya budaya belajar sepanjang hayat.
“Jangan berhenti belajar dan berinovasi, karena teknologi dan ilmu pengetahuan berkembang setiap saat. Kita harus mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kemampuan, produktivitas dan membuka peluang baru,” tegasnya.
Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade di bidang teknologi, komunikasi digital dan pengembangan kapasitas masyarakat, LPK Garuda College Indonesia terus diperkuat sebagai lembaga pelatihan yang adaptif, profesional dan terbuka terhadap kolaborasi.
Melalui sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, industri, lembaga pendidikan dan masyarakat, GCI berkomitmen mengambil bagian dalam upaya menyiapkan SDM Indonesia yang kompeten, produktif, inovatif dan siap menghadapi perubahan dunia kerja menuju Indonesia Emas 2045.


